semao ane......
jika sampah yang kita buang saja ternyata masih "bermanfaat", maka yakinlah bahwa kita memiliki manfaat dan memberikan manfaat....so, support terus diri kita
Selasa, 13 Desember 2011
Kamis, 01 Desember 2011
sejarah mengajarkan pada kita tentang bagaimana harus bersikap,
sejarah memberikan pemahaman pad qt tentang bagaimana harus berjuang..
sejarah adalah realita kehidupan
sejarah tidak berulang,tapi penomena nya selalu berulang
sejarah memberikan petunjuk pada qta untuk menoleh kebelakang dan menatap mas depan.
dari sejaarah kita bisa berfikir bahwa hanya mereka yang berani berjuanglah yang akan menjadi pemenang,
sedang bagi mereka yang terus meratpi keadaan,
tak mau bersyukur atas kemurahan Tuhan, hanya akan menjadi pecundang..
semoga suatu saaaat nanti,
ketika sejarah dibuat oleh anak cucu generasi kita
iringan do'a tetap mengalir dari lisan ikhlas dan rasa syukur mereka
sejarah memberikan pemahaman pad qt tentang bagaimana harus berjuang..
sejarah adalah realita kehidupan
sejarah tidak berulang,tapi penomena nya selalu berulang
sejarah memberikan petunjuk pada qta untuk menoleh kebelakang dan menatap mas depan.
dari sejaarah kita bisa berfikir bahwa hanya mereka yang berani berjuanglah yang akan menjadi pemenang,
sedang bagi mereka yang terus meratpi keadaan,
tak mau bersyukur atas kemurahan Tuhan, hanya akan menjadi pecundang..
semoga suatu saaaat nanti,
ketika sejarah dibuat oleh anak cucu generasi kita
iringan do'a tetap mengalir dari lisan ikhlas dan rasa syukur mereka
Rabu, 30 November 2011
Ternyata, derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia
diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau
ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah
sejauh mana nilai manfaat diri ini? Istilah Emha Ainun Nadjib-nya,
tanyakanlah pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah,
makruh, atau malah manusia haram?
Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai
jikalau keberadaannya sangat dirindukan, sangat bermanfaat, perilakunya
membuat hati orang di sekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari
seorang manusia wajib, diantaranya dia seorang pemalu, jarang mengganggu
orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku
kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa
terpelihara, ia hemat betul kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat
daripada berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang
bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-harinya
tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar,
selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan
mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.
Bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik itu
perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap
tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu
berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena
Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT, subhanallaah, demikian indah hidupnya.
Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan
tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang.
Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang
membara. Jikalau saja orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka
siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di
rongga qolbu ini. Orang yang wajib, adanya
pasti penuh manfaat. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik,
dan ternyata ia hanya akan lahir dari semburat kepribadian yang baik
pula.
Orang yang sunah, keberadaannya bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada
tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan.
Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum
dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati
lagi. Seperti halnya kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati
tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga qolbu siapapun.
Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Di kantor kerja
atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan
menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah
pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa manfaat, tidak juga
membawa mudharat.
Adapun orang yang makruh, keberadannya justru
membawa mudharat. Kalau dia tidak ada, tidak berpengaruh. Artinya kalau
dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang.
Misalnya, ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah
sangat tenang, tetapi ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah
datang, anak-anak malah lari ke tetangga, ibu cemas, dan pembantu pun
sangat gelisah. Inilah seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan
masalah.
Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya
malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru
disyukuri. Jika dia pergi ke kantor, perlengkapan kantor pada hilang,
maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yang ada malah
mensyukurinya.
Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung
sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan
orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat
manfaat tidak dengan kehadiran kita? Adanya kita di masyarakat sebagai
manusia apa, wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram? Kenapa tiap kita
masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku
sombong kita?
Hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah
anak-anak kita sudah merasa bangga punya ibu seperti kita? Punya manfaat
tidak kita ini? Bagi ayah cobalah mengukur diri, saya ini seorang ayah
atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada
para mubaligh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebenaran atau
hanya mencari penghargaan dan popularitas saja?
Ternyata, derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana dirinya punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia
diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau
ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita, maka ukurlah
sejauh mana nilai manfaat diri ini? Istilah Emha Ainun Nadjib-nya,
tanyakanlah pada diri ini apakah kita ini manusia wajib, sunat, mubah,
makruh, atau malah manusia haram?
Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai
jikalau keberadaannya sangat dirindukan, sangat bermanfaat, perilakunya
membuat hati orang di sekitarnya tercuri. Tanda-tanda yang nampak dari
seorang manusia wajib, diantaranya dia seorang pemalu, jarang mengganggu
orang lain sehingga orang lain merasa aman darinya. Perilaku
kesehariannya lebih banyak kebaikannya. Ucapannya senantiasa
terpelihara, ia hemat betul kata-katanya, sehingga lebih banyak berbuat
daripada berbicara. Sedikit kesalahannya, tidak suka mencampuri yang
bukan urusannya, dan sangat nikmat kalau berbuat kebaikan. Hari-harinya
tidak lepas dari menjaga silaturahmi, sikapnya penuh wibawa, penyabar,
selalu berterima kasih, penyantun, lemah lembut, bisa menahan dan
mengendalikan diri, serta penuh kasih sayang.
Bukan kebiasaan bagi yang akhlaknya baik itu
perilaku melaknat, memaki-maki, memfitnah, menggunjing, bersikap
tergesa-gesa, dengki, bakhil, ataupun menghasut. Justru ia selalu
berwajah cerah, ramah tamah, mencintai karena Allah, membenci karena
Allah, dan marahnya pun karena Allah SWT, subhanallaah, demikian indah hidupnya.
Karenanya, siapapun di dekatnya pastilah akan
tercuri hatinya. Kata-katanya akan senantiasa terngiang-ngiang.
Keramahannya pun benar-benar menjadi penyejuk bagi hati yang sedang
membara. Jikalau saja orang yang berakhlak mulia ini tidak ada, maka
siapapun akan merasa kehilangan, akan terasa ada sesuatu yang kosong di
rongga qolbu ini. Orang yang wajib, adanya
pasti penuh manfaat. Begitulah kurang lebih perwujudan akhlak yang baik,
dan ternyata ia hanya akan lahir dari semburat kepribadian yang baik
pula.
Orang yang sunah, keberadaannya bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada
tidak tercuri hati kita. Tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan.
Hal ini terjadi mungkin karena kedalaman dan ketulusan amalnya belum
dari lubuk hati yang paling dalam. Karena hati akan tersentuh oleh hati
lagi. Seperti halnya kalau kita berjumpa dengan orang yang berhati
tulus, perilakunya benar-benar akan meresap masuk ke rongga qolbu siapapun.
Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Di kantor kerja
atau bolos sama saja. Seorang pemuda yang ketika ada di rumah keadaan
menjadi berantakan, dan kalau tidak adapun tetap berantakan. Inilah
pemuda yang mubah. Ada dan tiadanya tidak membawa manfaat, tidak juga
membawa mudharat.
Adapun orang yang makruh, keberadannya justru
membawa mudharat. Kalau dia tidak ada, tidak berpengaruh. Artinya kalau
dia datang ke suatu tempat maka orang merasa bosan atau tidak senang.
Misalnya, ada seorang ayah sebelum pulang dari kantor suasana rumah
sangat tenang, tetapi ketika klakson dibunyikan tanda sang ayah sudah
datang, anak-anak malah lari ke tetangga, ibu cemas, dan pembantu pun
sangat gelisah. Inilah seorang ayah yang keberadaannya menimbulkan
masalah.
Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya
malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru
disyukuri. Jika dia pergi ke kantor, perlengkapan kantor pada hilang,
maka ketika orang ini dipecat semua karyawan yang ada malah
mensyukurinya.
Masya Allah, tidak ada salahnya kita merenung
sejenak, tanyakan pada diri ini apakah kita ini anak yang menguntungkan
orang tua atau hanya jadi benalu saja? Masyarakat merasa mendapat
manfaat tidak dengan kehadiran kita? Adanya kita di masyarakat sebagai
manusia apa, wajib, sunah, mubah, makruh, atau haram? Kenapa tiap kita
masuk ruangan teman-teman malah pada menjauhi, apakah karena perilaku
sombong kita?
Hendaknya tanyakan pada diri masing-masing, apakah
anak-anak kita sudah merasa bangga punya ibu seperti kita? Punya manfaat
tidak kita ini? Bagi ayah cobalah mengukur diri, saya ini seorang ayah
atau gladiator? Saya ini seorang pejabat atau seorang penjahat? Kepada
para mubaligh, harus bertanya, benarkah kita menyampaikan kebenaran atau
hanya mencari penghargaan dan popularitas saja?
Senin, 28 November 2011
Renungkanlah sebuah hikayat di bawah ini ;
Hatim Al-Asham adalah seorang sahabat Syaqiq Al-Balkhi.
Suatu ketika, Syaqiq bertanya kepada Hatim,
"Wahai Hatim, sudah tiga puluh tahun kita bersahabat. Apa yang kamu peroleh selama ini ?"
Hatim menjawab,
"Aku telah memperoleh delapan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.
Inilah yang mencukupkan diriku untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Aku berharap keselamatan dan kebahagiaan itu berada di dalamnya."
Syaqiq lalu bertanya,"Apa itu, hai sahabatku?."
Hatim pun menjawab :
"pertama, aku telah mengamati berbagai macam makhluk. Aku lihat, mereka mempunyai kekasih sebagai tambatan hatinya. Sebagian dari mereka, ada yang didampingi hanya hingga menjelang kematiaannya.
Ada juga didampingi kekasihnya hingga keliang kubur. Sesudah itu, semuanya kembali dan meninggalkannya sendirian di kuburan. Tidak seorang pun bersedia menemaninya masuk keliang kubur.
Usai melihat kejadian itu, terbesit di dalam fikiranku bahwa ternyata kekasih yang paling utama ialah yang menyertai seseorang masuk keliang kubur dan memberikan hiburan di dalamnya.
Hal ini hanya aku temui kepada amal shaleh.
Oleh karena itu, amal shaleh kujadikan kekasih, agar kelak bisa menjadi pelita dalam kuburku, menghibur dan tidak meninggalkanku seorang diri.
Kedua, Aku lihat kebanyakan manusia hanya memperturutkan kehendak nafsunya untuk memenuhi segala hasratnya. Terhadap hal ini, aku camkan firman Allah SWT;
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya"( QS.Al-Nazi'at[79]:40-41).
Aku yakin, yang dikatakan Al-Qur'an tentu benar. Maka, aku segera melawan kehendak nafsu. Aku berjihad dan berjuang menahan hawa nafsuku, berusaha menolak segala keinginanku yang liar hingga ia tunduk, menyerah, dan ta'at kepada Allah SWT.
Ketiga, Aku lihat setiap orang membanting tulang untuk memperoleh dan menumpuk kekayaan dunia.
Mereka membelanjakannya dengan hemat, bahkan amat kikir.
Aku teringat firman Allah SWT ;"Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah adalah kekal".(QS.An-Nahl[16]:96).
Lalu, segera kubelanjakan harta simpananku untuk mencari ridha Allah; bersedekah kepada fakir miskin dan berjihad pada Allah (Sabilillah) agar kelak menjadi simpanan di sisi Allah SWT.
Keempat, Aku melihat sebagian manusia mengira bahwa kemuliaan dan ketinggian derajat ditentukan oleh banyaknya kerabat dan keluarga. Lalu, mereka merasa gagah dan bangga jika memiliki kerabat yang banyak. Sebagian dari mereka ada juga yang beranggapan bahwa kemulian dan ketinggian derajat ditentukan oleh banyaknya kerabat dan keluarga.lalu, mereka merasa gagah dan bangga jika memiliki kerabat yang banyak. Sebagian dari mereka ada pula yang beranggapan bahwa kemulian dan ketinggian martabat terletak pada banyaknya harta dan anak. dengan kekayaan itu, mereka lalu menepuk dada.
Sebagian yang lain beranggapan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat berada dalam perilaku yang zalim, keserakahan, dan pertumpahan darah antar manusia. bahkan, ada pula yang berkeyakinan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat terletak pada keborosan, hura-hura, dan menghambur-hamburkan harta.
Melihat kenyataan itu, lalu kurenungkan firman Allah SWT . artinya:
" Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allahh ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu ( QS AL-HUJURAT [49]: 13). Maka, kupilih taqwa sebagai jalan kemuliaan dan ketinggian martabat.
Aku yakin ,yang dikemukakan Al-Quran adalah benar. dan, semua anggapan mereka salah dan tak beralasan.
Kelima, Aku melihat manusia hidup saling cela dan saling umpat. kulihat pangkal semua itu adalah karena kedengkian dalam masalah harta,pengaruh,dan kepandaian.
Maka, aku pun merenungkan firman Allah SWT., Apakah mereka yang membagi-bagikan Rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ,dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan Rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan'' ( QS Al-Zukhruf [43]:32).
Aku mengerti bahwa pembagian rezeki dan kedudukan telah ditentukan Allah sejak zaman azali. itu sebabnya, kubuang jauh-jauh sifat iri dan dengki dari dalam hati. Kuterima dengan senang hati setiap pemberian Allah SWT.
Keenam, Kulihat manusia saling bermusuhan karena berbagai sebab dan tujuan.
Maka, kurenungkan kembali firman Allah SWT., sesungguhnya setan itu musuh bagimu , maka anggaplah ia musuh -(mu), karena sesungguhnya setan -setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala ''( QS Fathir[35]: 6).
Maka, mengertilah aku bahwa orang tidak layak memusuhi kecuali terhadap setan. itu berarti orang yang memusuhi orang lain telah kena jaring tipu daya setan.
Ketujuh, Aku melihat setiap orang bekerja keras dan memeras keringat untuk mencari mencari makan dan kebutuhan hidup , hingga kadang ia terjatuh ke dalam kesyubhatan, terjerumus dalam hal yang haram dan mencemarkan martabatnya.
Maka, kurenungkan kembali Firman Allah SWT,"... Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah lah yang memberi rezekinya...
( QS. Huud [11]:6).
Aku pun mengerti bahwa rezeki itu berada pada kekuasaan Allah SWT.semata.
Masalah rezeki, Dialah yang mananggungnya. oleh karena itu, aku lalu bangkit untuk memelihara ibadah kepada-Nya dan kubuang jauh - jauh rasa loba dan tamak.hanya kepada-Nya aku menyerahkan sepenuhnya masalah rezeki ini.
Kedelapan, Aku sering melihat manusiia menyandarkan nasib dan harapannya kepada sesama dan makhluk lain. sebagian dari mereka ada yang menyandarkan kepada uang dan kebendaan, harta dan kekayaan , perusahaan dan perdagangan.ada pula yang bergantung kepada sesama manusia.
Maka, kembaliku perhatikan dengan sungguh-sungguh Firman Allah SWT.
" Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." ( QS Al-Thalaq[65]:3).
Oleh karena itu, aku bertawakkal kepada Allah SWT. sebab, hanya Allahlah sebaik-baik pelindung.
Setelah mendengar keterangan Hatim tersebut, Syaqiq pun berkata,
''Semoga Allah memberikan taufik kepadamu, wahai sahabatku. aku telah menelaah kitab Taurat, Injil, Zabur, dan AL-Quran, semuanya memberikan keterangan seperti yang engkau katakan itu. Orang yang mengamalkan perkara itu berarti ia telah mengamalkan keempat kitab suci itu.
Hatim Al-Asham adalah seorang sahabat Syaqiq Al-Balkhi.
Suatu ketika, Syaqiq bertanya kepada Hatim,
"Wahai Hatim, sudah tiga puluh tahun kita bersahabat. Apa yang kamu peroleh selama ini ?"
Hatim menjawab,
"Aku telah memperoleh delapan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.
Inilah yang mencukupkan diriku untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Aku berharap keselamatan dan kebahagiaan itu berada di dalamnya."
Syaqiq lalu bertanya,"Apa itu, hai sahabatku?."
Hatim pun menjawab :
"pertama, aku telah mengamati berbagai macam makhluk. Aku lihat, mereka mempunyai kekasih sebagai tambatan hatinya. Sebagian dari mereka, ada yang didampingi hanya hingga menjelang kematiaannya.
Ada juga didampingi kekasihnya hingga keliang kubur. Sesudah itu, semuanya kembali dan meninggalkannya sendirian di kuburan. Tidak seorang pun bersedia menemaninya masuk keliang kubur.
Usai melihat kejadian itu, terbesit di dalam fikiranku bahwa ternyata kekasih yang paling utama ialah yang menyertai seseorang masuk keliang kubur dan memberikan hiburan di dalamnya.
Hal ini hanya aku temui kepada amal shaleh.
Oleh karena itu, amal shaleh kujadikan kekasih, agar kelak bisa menjadi pelita dalam kuburku, menghibur dan tidak meninggalkanku seorang diri.
Kedua, Aku lihat kebanyakan manusia hanya memperturutkan kehendak nafsunya untuk memenuhi segala hasratnya. Terhadap hal ini, aku camkan firman Allah SWT;
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya"( QS.Al-Nazi'at[79]:40-41).
Aku yakin, yang dikatakan Al-Qur'an tentu benar. Maka, aku segera melawan kehendak nafsu. Aku berjihad dan berjuang menahan hawa nafsuku, berusaha menolak segala keinginanku yang liar hingga ia tunduk, menyerah, dan ta'at kepada Allah SWT.
Ketiga, Aku lihat setiap orang membanting tulang untuk memperoleh dan menumpuk kekayaan dunia.
Mereka membelanjakannya dengan hemat, bahkan amat kikir.
Aku teringat firman Allah SWT ;"Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah adalah kekal".(QS.An-Nahl[16]:96).
Lalu, segera kubelanjakan harta simpananku untuk mencari ridha Allah; bersedekah kepada fakir miskin dan berjihad pada Allah (Sabilillah) agar kelak menjadi simpanan di sisi Allah SWT.
Keempat, Aku melihat sebagian manusia mengira bahwa kemuliaan dan ketinggian derajat ditentukan oleh banyaknya kerabat dan keluarga. Lalu, mereka merasa gagah dan bangga jika memiliki kerabat yang banyak. Sebagian dari mereka ada juga yang beranggapan bahwa kemulian dan ketinggian derajat ditentukan oleh banyaknya kerabat dan keluarga.lalu, mereka merasa gagah dan bangga jika memiliki kerabat yang banyak. Sebagian dari mereka ada pula yang beranggapan bahwa kemulian dan ketinggian martabat terletak pada banyaknya harta dan anak. dengan kekayaan itu, mereka lalu menepuk dada.
Sebagian yang lain beranggapan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat berada dalam perilaku yang zalim, keserakahan, dan pertumpahan darah antar manusia. bahkan, ada pula yang berkeyakinan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat terletak pada keborosan, hura-hura, dan menghambur-hamburkan harta.
Melihat kenyataan itu, lalu kurenungkan firman Allah SWT . artinya:
" Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allahh ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu ( QS AL-HUJURAT [49]: 13). Maka, kupilih taqwa sebagai jalan kemuliaan dan ketinggian martabat.
Aku yakin ,yang dikemukakan Al-Quran adalah benar. dan, semua anggapan mereka salah dan tak beralasan.
Kelima, Aku melihat manusia hidup saling cela dan saling umpat. kulihat pangkal semua itu adalah karena kedengkian dalam masalah harta,pengaruh,dan kepandaian.
Maka, aku pun merenungkan firman Allah SWT., Apakah mereka yang membagi-bagikan Rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ,dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan Rahmat Tuhanmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan'' ( QS Al-Zukhruf [43]:32).
Aku mengerti bahwa pembagian rezeki dan kedudukan telah ditentukan Allah sejak zaman azali. itu sebabnya, kubuang jauh-jauh sifat iri dan dengki dari dalam hati. Kuterima dengan senang hati setiap pemberian Allah SWT.
Keenam, Kulihat manusia saling bermusuhan karena berbagai sebab dan tujuan.
Maka, kurenungkan kembali firman Allah SWT., sesungguhnya setan itu musuh bagimu , maka anggaplah ia musuh -(mu), karena sesungguhnya setan -setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala ''( QS Fathir[35]: 6).
Maka, mengertilah aku bahwa orang tidak layak memusuhi kecuali terhadap setan. itu berarti orang yang memusuhi orang lain telah kena jaring tipu daya setan.
Ketujuh, Aku melihat setiap orang bekerja keras dan memeras keringat untuk mencari mencari makan dan kebutuhan hidup , hingga kadang ia terjatuh ke dalam kesyubhatan, terjerumus dalam hal yang haram dan mencemarkan martabatnya.
Maka, kurenungkan kembali Firman Allah SWT,"... Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah lah yang memberi rezekinya...
( QS. Huud [11]:6).
Aku pun mengerti bahwa rezeki itu berada pada kekuasaan Allah SWT.semata.
Masalah rezeki, Dialah yang mananggungnya. oleh karena itu, aku lalu bangkit untuk memelihara ibadah kepada-Nya dan kubuang jauh - jauh rasa loba dan tamak.hanya kepada-Nya aku menyerahkan sepenuhnya masalah rezeki ini.
Kedelapan, Aku sering melihat manusiia menyandarkan nasib dan harapannya kepada sesama dan makhluk lain. sebagian dari mereka ada yang menyandarkan kepada uang dan kebendaan, harta dan kekayaan , perusahaan dan perdagangan.ada pula yang bergantung kepada sesama manusia.
Maka, kembaliku perhatikan dengan sungguh-sungguh Firman Allah SWT.
" Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." ( QS Al-Thalaq[65]:3).
Oleh karena itu, aku bertawakkal kepada Allah SWT. sebab, hanya Allahlah sebaik-baik pelindung.
Setelah mendengar keterangan Hatim tersebut, Syaqiq pun berkata,
''Semoga Allah memberikan taufik kepadamu, wahai sahabatku. aku telah menelaah kitab Taurat, Injil, Zabur, dan AL-Quran, semuanya memberikan keterangan seperti yang engkau katakan itu. Orang yang mengamalkan perkara itu berarti ia telah mengamalkan keempat kitab suci itu.
Jumat, 25 November 2011
Tempat sangat sederhana sekali sehingga sangat sulit selonjoran....
Di dunia ini, tempat
yang paling kaya adalah kuburan. Dari sana sejenak orang akan merasakan
ketukan hati yang berpesan ’suatu saat aku juga akan mengalami seperti
mereka..’. Bagi mereka yang mau berubah, maka ia akan mempersiapkan
bekal untuk kehidupan setelah dunia. Kalau anda sekarang sudah memiliki
’teman hidup’, apakah anda sudah memiliki ’teman mati’?
Ada tiga ’teman mati’ (baca: perkara/amalan) yang setia dan tidak akan terputus pahalanya walau kita sudah meninggal; ilmu yang bermanfaat, amal jariyah di jalan ALLAH, doa anak yang sholeh. Yang pertama dan yang kedua adalah mutlak dilakukan oleh subjek semasa hidupnya. Sedangkan yang ketiga adalah ’orang lain’ yang terus berkarya, yang merekam didikan kasih sayang di masa kecilnya, yang juga rentan dan terombang-ambing oleh badai perubahan. Paling tidak bagi yang belum menikah, perkara yang ketiga tersebut belumlah berlaku. Jadi wujud usaha yang bisa dilakukan adalah poin pertama dan kedua.
Salah satu cara yang dianjurkan untuk memotret masa depan kita sebelum mati; Jika suatu hari Anda datang pada upacara pemakaman, dan Anda menyaksikan tubuh yang dimakamkan itu adalah diri Anda. Ada ayah, ibu dan keluarga anda, tetangga dekat, dan tak lupa teman-teman. Anda menyaksikan salah seorang keluarga Anda membuka pidato kematian, semua orang termasuk Anda hanya berhak mendengarkan.
Nah, kira-kira untain kalimat seperti apa yang ingin Anda dengar? Komentar apa yang ingin Anda dengar dari tetangga sebelah tentang Anda setelah mereka pulang dari makam? Setelah satu minggu berlangsung, apa yang dibicarakan orang lain tentang Anda? Setelah sebulan, setahun dan seterusnya, apa yang dikenang oleh banyak orang tentang Anda?
Hakikat pertanyaan tesebut bukanlah pujian ataupun gosip tentang Anda, melainkan kenyataan, fakta, dan prestasi yang telah Anda ukir hingga saat ini.
Sungguh kuburan adalah tempat yang kaya untuk memotret masa depan kita, merencanakan dan merealisasikannya tahap demi tahap. Kematian memang akan senantiasa dirahasiakan, dan di situlah letak pentingnya. Tak tahu bagaimana dan kapan. Hingga seharusnya membuat kita selalu khawatir jika saat ajal menjemput, sementara kondisi iman kita dalam kondisi terpuruk.
Kematian yang akan tetap menjadi misteri. Tak satupun yang berani menjamin, bahwa seorang aktivis dakwah akan mendapatkan anugerah meninggal dalam keadaan yang baik (khusnul khotimah). Untuk itulah tiap hari kita tak berhenti berharap, tunjukilah kami jalan lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang sesat. Sembari berusaha menghindar dari segala dosa masa lalu, bertaubat sungguh-sungguh, dan terus mengusahakan kebaikan yang kita mampu.
Saudaraku, mari mulai sekarang kita tuliskan ’pidato kematian’ yang kelak akan dibacakan saat kita meninggal dunia, mari perlahan perbaiki diri, susun prestasi-prestasi amal yang kita mampu, mari perbaiki kualitas diri dan seru sesama kita untuk mendekatkan diri kepada Islam dan kepada ALLAH SWT.
Ada tiga ’teman mati’ (baca: perkara/amalan) yang setia dan tidak akan terputus pahalanya walau kita sudah meninggal; ilmu yang bermanfaat, amal jariyah di jalan ALLAH, doa anak yang sholeh. Yang pertama dan yang kedua adalah mutlak dilakukan oleh subjek semasa hidupnya. Sedangkan yang ketiga adalah ’orang lain’ yang terus berkarya, yang merekam didikan kasih sayang di masa kecilnya, yang juga rentan dan terombang-ambing oleh badai perubahan. Paling tidak bagi yang belum menikah, perkara yang ketiga tersebut belumlah berlaku. Jadi wujud usaha yang bisa dilakukan adalah poin pertama dan kedua.
Salah satu cara yang dianjurkan untuk memotret masa depan kita sebelum mati; Jika suatu hari Anda datang pada upacara pemakaman, dan Anda menyaksikan tubuh yang dimakamkan itu adalah diri Anda. Ada ayah, ibu dan keluarga anda, tetangga dekat, dan tak lupa teman-teman. Anda menyaksikan salah seorang keluarga Anda membuka pidato kematian, semua orang termasuk Anda hanya berhak mendengarkan.
Nah, kira-kira untain kalimat seperti apa yang ingin Anda dengar? Komentar apa yang ingin Anda dengar dari tetangga sebelah tentang Anda setelah mereka pulang dari makam? Setelah satu minggu berlangsung, apa yang dibicarakan orang lain tentang Anda? Setelah sebulan, setahun dan seterusnya, apa yang dikenang oleh banyak orang tentang Anda?
Hakikat pertanyaan tesebut bukanlah pujian ataupun gosip tentang Anda, melainkan kenyataan, fakta, dan prestasi yang telah Anda ukir hingga saat ini.
Sungguh kuburan adalah tempat yang kaya untuk memotret masa depan kita, merencanakan dan merealisasikannya tahap demi tahap. Kematian memang akan senantiasa dirahasiakan, dan di situlah letak pentingnya. Tak tahu bagaimana dan kapan. Hingga seharusnya membuat kita selalu khawatir jika saat ajal menjemput, sementara kondisi iman kita dalam kondisi terpuruk.
Kematian yang akan tetap menjadi misteri. Tak satupun yang berani menjamin, bahwa seorang aktivis dakwah akan mendapatkan anugerah meninggal dalam keadaan yang baik (khusnul khotimah). Untuk itulah tiap hari kita tak berhenti berharap, tunjukilah kami jalan lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang sesat. Sembari berusaha menghindar dari segala dosa masa lalu, bertaubat sungguh-sungguh, dan terus mengusahakan kebaikan yang kita mampu.
Saudaraku, mari mulai sekarang kita tuliskan ’pidato kematian’ yang kelak akan dibacakan saat kita meninggal dunia, mari perlahan perbaiki diri, susun prestasi-prestasi amal yang kita mampu, mari perbaiki kualitas diri dan seru sesama kita untuk mendekatkan diri kepada Islam dan kepada ALLAH SWT.
ga penting juga kan....?????
salah satu mentri dari dinasti bani umayyah ada yang bersikap sombong dan angkuh karena dia merasa punya segalanya,kekuasaan,kuda perang,beraneka ragam persenjataan dan seterusnya. Suatu hari dia pernah lewat di depan Hasan Al basrhri yang sedang duduk. Semua orang yang ada berdiri untuk menghormatinya kecuali Hasan Al-bashri.
Melihat hal tersebut sang mentri menoleh kearahnya lalu bertanya "Engkau tidak mengenalku?"
Hasan Al-bashri menjawab."Karena aku kenal siapa anda maka aku tidak ikut berdiri"
Mentri itu bertanya."Siapa aku?"
Jawab Hasan Al-bashri."Engkau adalah makhluk yang keluar dari lobang kencing dua kali, engkau selalu membawa kotoran (tinja) asalmu dari kemaluan yang hina, dari tetes sperma yang bau.
Sang mentri itu terdiam dan mukanya merah seperti terpanggang api.
Melihat hal tersebut sang mentri menoleh kearahnya lalu bertanya "Engkau tidak mengenalku?"
Hasan Al-bashri menjawab."Karena aku kenal siapa anda maka aku tidak ikut berdiri"
Mentri itu bertanya."Siapa aku?"
Jawab Hasan Al-bashri."Engkau adalah makhluk yang keluar dari lobang kencing dua kali, engkau selalu membawa kotoran (tinja) asalmu dari kemaluan yang hina, dari tetes sperma yang bau.
Sang mentri itu terdiam dan mukanya merah seperti terpanggang api.
Langganan:
Postingan (Atom)