Jumat, 25 November 2011

Tempat sangat sederhana sekali sehingga sangat sulit selonjoran....

Di dunia ini, tempat yang paling kaya adalah kuburan. Dari sana sejenak orang akan merasakan ketukan hati yang berpesan ’suatu saat aku juga akan mengalami seperti mereka..’. Bagi mereka yang mau berubah, maka ia akan mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah dunia. Kalau anda sekarang sudah memiliki ’teman hidup’, apakah anda sudah memiliki ’teman mati’?

Ada tiga ’teman mati’ (baca: perkara/amalan) yang setia dan tidak akan terputus pahalanya walau kita sudah meninggal; ilmu yang bermanfaat, amal jariyah di jalan ALLAH, doa anak yang sholeh. Yang pertama dan yang kedua adalah mutlak dilakukan oleh subjek semasa hidupnya. Sedangkan yang ketiga adalah ’orang lain’ yang terus berkarya, yang merekam didikan kasih sayang di masa kecilnya, yang juga rentan dan terombang-ambing oleh badai perubahan. Paling tidak bagi yang belum menikah, perkara yang ketiga tersebut belumlah berlaku. Jadi wujud usaha yang bisa dilakukan adalah poin pertama dan kedua.

Salah satu cara yang dianjurkan untuk memotret masa depan kita sebelum mati; Jika suatu hari Anda datang pada upacara pemakaman, dan Anda menyaksikan tubuh yang dimakamkan itu adalah diri Anda. Ada ayah, ibu dan keluarga anda, tetangga dekat, dan tak lupa teman-teman. Anda menyaksikan salah seorang keluarga Anda membuka pidato kematian, semua orang termasuk Anda hanya berhak mendengarkan.

Nah, kira-kira untain kalimat seperti apa yang ingin Anda dengar? Komentar apa yang ingin Anda dengar dari tetangga sebelah tentang Anda setelah mereka pulang dari makam? Setelah satu minggu berlangsung, apa yang dibicarakan orang lain tentang Anda? Setelah sebulan, setahun dan seterusnya, apa yang dikenang oleh banyak orang tentang Anda?

Hakikat pertanyaan tesebut bukanlah pujian ataupun gosip tentang Anda, melainkan kenyataan, fakta, dan prestasi yang telah Anda ukir hingga saat ini.

Sungguh kuburan adalah tempat yang kaya untuk memotret masa depan kita, merencanakan dan merealisasikannya tahap demi tahap. Kematian memang akan senantiasa dirahasiakan, dan di situlah letak pentingnya. Tak tahu bagaimana dan kapan. Hingga seharusnya membuat kita selalu khawatir jika saat ajal menjemput, sementara kondisi iman kita dalam kondisi terpuruk.

Kematian yang akan tetap menjadi misteri. Tak satupun yang berani menjamin, bahwa seorang aktivis dakwah akan mendapatkan anugerah meninggal dalam keadaan yang baik (khusnul khotimah). Untuk itulah tiap hari kita tak berhenti berharap, tunjukilah kami jalan lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang sesat. Sembari berusaha menghindar dari segala dosa masa lalu, bertaubat sungguh-sungguh, dan terus mengusahakan kebaikan yang kita mampu.

Saudaraku, mari mulai sekarang kita tuliskan ’pidato kematian’ yang kelak akan dibacakan saat kita meninggal dunia, mari perlahan perbaiki diri, susun prestasi-prestasi amal yang kita mampu, mari perbaiki kualitas diri dan seru sesama kita untuk mendekatkan diri kepada Islam dan kepada ALLAH SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar